Bedah Novel Religi Ketika Cinta Bertasbih 1
NAMA : Husna Nadhillah
Kelas : XII IPA 1 (SMAN 3 SMD)
Bedah Novel Religi
Ketika Cinta
Bertasbih 1
Karya Habiburrahman El-Shirazy
v Tema :
Tema yang terkandung dalam novel Ketika Cinta
Bertasbih ialah perjuangan hidup seorang pemuda pekerja keras untuk menggapai
kebahagian dan cintanya.
v Tokoh dan Perwatakan :
Ø Khairul Azzam
Seorang lelaki yang soleh, sederhana, pekerja keras, dan bertanggung jawab terhadap keluarga dan atas segala perbuatannya
dan menjadi suami Anna Althafunnisa
Soleh :
§
“Ia
membenarkan tindakannya itu dengan berpikir bahwa datangnya azan yang
memanggilnya itu lebih dulu dari datangnya dering telpon itu. Dan dia harus
mendahulukan yang datang lebih dulu.” (hal.45)
Pekerja keras :
§
“Mungkin
saat itu mas khairul sedang capek. Letih. Orang kalau letih itu bisa tidak
jernih pikirannya. Cobalah ingat, kemarin ia kerja sejak pagi sampai malam.”
(hal.105)
Bertanggung Jawab :
§
“Allah
belum mengizinkan aku menikah. Aku masih harus memperhatikan adik-adikku sampai
ke gerbang masa depan yang jelas dan cerah”. (hal.121)
§
“ia
langsung teringat akan tanggung jawabnya sebagai kakak tertua. Ia menangis. Ia
merasakan betapa sayangnya Allah kepadanya. Allah masih ingin ia focus pada
tanggung jawabnya membiayai adik-adiknya.” (hal.121)
§
“aku
sama sekali tak menyangka bahwa kau menghidupi adik-adikmu di Indonesia…”
(hal.65)
Ø Anna
Althafunnisa
Ia adalah seorang wanita yang sempurna dimata orang, selain pandai,
lembut, saleha, dan cantik dia juga memiliki budi pekerti yang baik
Pandai:
§ “Anna adalah bintangnya pesantren Daarul Quran. Sejak kecil ia menghiasi
dirinya dengan prestasi dan prestasi selain dengan akhlak mulia tentunya. Ia
menyelesaikan S1-nya di Alexandria dengan predikat mumtaz.” (hal.120)
Saleha :
§ “Kalau kamu mendapatkan Ana, kamu telah mendapatkan surga sebelum
surga.” (hal.91)
Cantik :
§ “Kedua matanya yang sedikit merah mengguratkan kelelahan. Namun sama
sekali tidak mengurangi pesona kecantikannya.” (hal.252)
Budi Pekerti Baik:
§ “Anna menunggu Bu Nafis sampai beranda. Begitu bu Nafis mendekat Anna
langsung meraih tangan perempuan setengah baya itu dan menciumnya penuh rasa
ta’zim.” (hal.89)
Ø Furqan Andi Hasan
Ia adalah seorang lelaki yang ramah, glamour,
intelek dan sedikit ceroboh
Ramah :
§
“Setelah berpelukan, Furqan mengajak Azzam menemani
makan roti kibdah disamping sebuah masjid tua sambil berbincang-bincang.”
(hal.106)
Glamour
:
§
“Furqan langsung merasakan kesejukan dan kemewahan
kamarnya. Kemewahan Eropa kontemporer hasil perkawinan arsitektur Italia dan
turki modern.” (hal.155)
Intelek
:
§
“Furqan lebih dikenal sebagai intelek muda yang sering
diminta menjadi nara sumber di pelbagai kelompok kajian…..” (hal.61)
Ceroboh
:
§
“Ini teguran dari Allah atas cara hidupmu yang
menurutku sudah tidak wajar sebagai seorang penuntut ilmu.” (hal.289)
Ø
Eliana Alam
Ia adalah seorang wanita yang supel,
hedonis, cerdas.
Cerdas :
§
“Dikagumi
tidak hanya karena kecantikan fisiknya, tapi juga karena kecerdasan dan
prestasi-prestasi yang telah diraihnya.” (hal.35)
§
“..keberadaannya
di Negeri Pyramid itu untuk melajutkan S.2-nya di American University in Cairo (AUC).” (hal.36)
§
‘Karena
opininya itulah ia langsung diminta jadi bintang tamu di Nile TV. Di layar ia
berdebat dengan Sekjen Liga Arab.” (hal.36)
v Alur :
alur progresif, yaitu jalan cerita atau peristiwa yang
diceritakan bersifat kronologis, atau secara runtut cerita dimulai dari tahap
awal , atau dapat disebut juga juga alur
maju, karena dimulai dengan pertemuan Anna dengan Azzam, yang mana mereka sudah
melewati liku-liku kehidupan hingga pada akhirnya mereka bersatu.
v Latar Tempat
Ø Kota
Alexandria
§ “Di
matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu memesona.” (hal.33)
§ “Di
matanya, Alexandria sore itu telah membuatnya seolah tak lagi berada di dunia”.
(hal.35)
Ø Hotel
Al Haram
§ “Dari
Jendela kamarnya yang terletak di lantai lima Hotel Al Haram.” (hal.35)
Ø El
Ghaish Street
§ “Pak
Ali langsung tancap gas melintas di atas El Ghaish Street…” (hal.51)
Ø Kawasan
El Manshiya
§ “Pak
Ali langsung tancap gas melintas di atas El Ghaish Street menuju kea rah pusat
perbelanjaan di kawasan El Manshiya.” (hal.51)
Ø Pantai
El Muntazah
§ “Acara
makan malam itu berlangsung di sebuah taman yang terletak di garis Pantai El
Muntazah.” (hal.59)
Ø Hay El
Ashir
§ Flat
Azzam dan teman-temannya dari Indonesia
§ “Ia
masih ingat dengan pemilik kedai tha’miyah
di kawasan Hay El Ashir.” (hal.101)
Ø Took
buku di El Manshiya
§ “Di
sebuah took buku di EL Manshiya, Azzam bertemu dengan Furqan.” (hal.106)
Ø Kota
Cairo
§ “Sampai
di Cairo. Azzam langsung meluncur pulang.” (hal.115)
§ “Malam
itu Kota Cairo terasa sejahtera.” (hal.123)
§ “Siang
itu , Cairo ia rasakan tidak seperti biasanya.” (hal 143)
Ø Al-Azhar
University
§ “Azzam
melangahkan kakinya menuju kampus Fakultas Ushuluddin, Al-Azhar University.”
(hal.161)
v Latar Waktu
Latar waktu dalam cerita
ini tidak dijelaskan secara langsung oleh pengarang, namun dapat ditarik
kesimpulan cerita ini berlangsung ketika Azzam mulai menuntut ilmu pada jenjang
perguruan tinggi di Universitas Al Azhar, Cairo. Sampai akhirnya ia harus
bekerja keras untuk mempertahankan kuliahnya sampai selesai beserta keluarganya
yang ada di Indonesia. Seperti petikan berikut:
Ø
“Dan akan ia buka kembali saat nanti sudah pulang ke Indonesia. Setelah ia
sudah selesai S1 dan adik-adiknya sudah bisa ia percaya mampu meraih masa
depannya”. (hal.121)
Ø
“Padahal ia sudah sembilan tahun di Mesir. Ia sama sekali tidak
memperdulikan hal itu. Baginya, yang penting ia telah melakukan hal yang benar.
Benar untuk dirinya, ibunya, adik-adiknya dan agamanya” (hal.212)
v Sudut Pandang
Sudut
pandang yang digunakan dalam novel ini adalah kata ganti orang ketiga karena
dalam penceritaanya penulis menggunakan kata “Dia”.
v Diksi dan Gaya Bahasa
Ø Personifikasi
§
Purnama itu seolah
tersenyum dan bertasbih bersama bintang-bintang dan angin malam.
“Tidak! ” Jawab Azzam sambil tersenyum. Azzam lalu memandang bulan purnama
yang bersinar terang di atas laut. Purnama itu seolah tersenyum dan bertasbih
bersama bintang-bintang dan angin malam. Azzam tak mau tahu apa perasaan Eliana
saat itu, yang penting ia merasa menang.
“Ah. Kau tidak jujur itu Mas! Ayo jujur sajalah!” Protes Pak Ali dengan
suara agak keras. Azzam hanya tersenyum. Dan diam. Cukup dengan diam ia sudah
menang. (Habiburrahman, 2008:62)
Ø
Perumpamaan
§
Gadis yang di
matanya seumpama permata safir .
Gadis yang di matanya seumpama permata safir yang paling indah. Gadis itu
adalah kilau matahari di musim semi. Sosok yang sedang menjadi buah bibir di
kalangan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Mesir. Gadis yang pesonanya
dikagumi banyak orang. Dikagumi tidak hanya karena kecantikan fisiknya, tapi
juga karena kecerdasan dan prestasi-prestasi yang telah diraihnya. Lebih dari
itu, gadis itu adalah putri orang nomor satu bagi masyarakat Indonesia di
Mesir. (hal.41)
Ø
Hiperbola
§
Ulu hatinya seperti tertusuk paku
Ia terus melangkah menuju mushala. Ada
yang menyesak dalam dada. Kabar adanya ceramah Dr. Yusuf Al Qardhawi yang datang
dari Qatar bersama Dr. Murad Wilfred Hofmann di Heliopolis membuncahkan
ke-inginannya untuk hadir, tapi ia merasa itu sulit. Ulu hatinya seperti
tertusuk paku. Pedih dan ngilu. Ia harus bersabar dengan pekerjaan rutinnya
mengantar tempe ke beberapa tempat. (hal.181)
v Amanat
Ø
Kesempatan harus dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak perlu takut akan
resiko. Karena resiko membuat kita lebih matang untuk melangkah maju.
Ø
Setiap ada kemauan, pasti ada jalan.
Ø
Sesama muslim adalah saudara, yang saling peduli.
Ø
Sayangilah dirimu, beri ia kesempatan untuk menjadi yang semestinya ia
inginkan.
Ø
Pilihan itu ada, namun tergantung siap atau tidak kita menanggung resiko
dari pilihan yang kita itu.
Ø
Teguh pendirian, rela berkorban adalah kunci sukses masa depan.
Ø
Lebih baik diam, daripada berbicara yang tidak perlu.
Ø
Cinta yang haqiqih adalah cinta yang berdasarkan pilihan hati, bukan hanya
karena nafsu ingin memiliki.
v Struktur Teks
Ø
Abstraksi
§
“Dan penyebab itu semua, tak lain dan tak bukan adalah seorang gadis
pualam, yang di matanya memiliki kecantikan bunga mawar putih yang sedang
merekah. Gadis yang di matanya seumpama permata safir yang indah.” (hal.35)
Ø
Orientasi
§
“Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu
indah. Ia memandang ke arah pantai. Ombaknya berbuih putih. Bergelombang naik
turun. Berkejar-kejaran menampakkan keriangan yang sangat menawan. Semilir
angin mengalirkan kesejukan. Suara desaunya benar-benar terasa seumpama desau
suara zikir alam yang menciptakan suasana tentram.” (hal.34)
Ø
Komplikasi
§
“Biarlah masyarakat Indonesia di Cairo tahunya saya adalah mahasiswa
Al-Azhar yang tidak lulus-lulus karena lebih senang bisnis tempe, bakso, dan
katering.” (hal.65)
§
“Allah belum mengizinkan aku menikah. Aku masih harus memperhatikan
adik-adikku sampai ke gerbang masa depan yang jelas dan cerah. Ia langsung teringat akan tanggung jawabnya
sebagai kakak tertua. Ia menangis. Ia merasakan betapa sayangnya Allah
kepadanya. Allah masih ingin ia focus pada tanggung jawabnya membiayai
adik-adiknya.” (hal.121)
§
“Kalau kamu mendapatkan Ana, kamu telah mendapatkan surga sebelum surga.”
(hal.91)
Ø
Evaluasi
§
Ustadz Mujab kembali menghela nafas panjang. “Allahlah yang mengatur perjalanan hidup
ini. Sungguh aku ingin membantumu Rul. Tapi agaknya takdir tidak menghendaki
aku bisa membantumu kali ini. Anna Althafunnisa itu masih terhitung sepupu
denganku. Aku tahu persis keadaan di saat ini, sayang kau datang tidak tepat
pada waktunya. Anna Althafunnisa sudah dilamar orang. Ia sudah dilamar oleh
temanmu sendiri.”
“Sudah dilamar temanku sendiri? Siapa?”
“Furqan! Ia sudah dilamar Furqan satu
bulan yang lalu.”
Mendengar hal itu tulang-tulang Azzam
bagai dilolosi satu per satu. Lidah dan bibirnya terasa kelu. Furqan lagi, ia
berusaha keras mengendalikan hati dan perasaannya untuk bersabar. (hal.125)
§
Maaf Rul, pasti aku akan memilih yang lebih serius belajarnya. Kau tentu
sudah paham maksudku. Bukan aku ingin menyinggungmu, tapi aku ingin kau
memperbaiki dirimu. Aku ingin kau lebih realistis, cobalah kau rubah opini di
Cairo tentang dirimu.......... Dengan bahasa lain, sebenarnya ustadz Mujab
seolah ingin mengatakan bahwa dia sama sekali “tidak berhak” melamar Anna. Atau
lebih tepatnya, sama sekali “tidak layak” melamar Anna. Hanya mereka yang
berprestasi yang berhak dan layak melamarnya. (hal.126)
§
“Baiklah saat ini aku belum berhasil menunjukkan prestasi. Tapi tunggulah
lima tahun ke depan. Akan aku buktikan bahwa, aku Khairul Azzam berhak melamar
gadis salehah yang mana saja.” (hal .27)
§
Furqan memeluk petugas itu eat-erat. Ia memeluk seperti
anak kecil memeluk ibunya karena takut jika ditinggal pergi.
“Hidupku sudah
tamat. Aku sudah mati! Lebih baik aku langsung dikubur saja daripada aku harus
menanggung aib yang sangat memalukan diriku, ibuku, ayahku, dan keluargaku!”
(hal.394)
Ø
Resolusi
§
Pemuda itu adalah Khairul Azzam yang begitu mendengar
ada seminar dengan moderator Anna Althafunnisa, ia langsung datang untuk
menghilangkan penasarannya. Dalam hati pemuda itu berkata, “Alangkah bahagianya
Furqan, jika ia benar-benar bisa menyunting Anna. Semoga kebaikan selalu
menyertai kalian.” Pemuda itu mengusap matanya yang basah. Hanya basah. Tak
sampai ada airmata yang tumpah. (hal.346)
Ø
Koda
§
“Dan dengan hati berdebar ia baca. Ia dinyatakan lulus
dengan predikat : JAYYID.” (hal.452)
§
Imam Muda itu langsung menjabat tangannya erat dan
berkata, “Selamat berjuang dan mengamalkan ilmu. Baik, nanti malam Al-Qur’anmu
kita khatamkan!” Azzam sangat bergembira mendengar hal itu. (hal.452)